Our Profile

We are here as your Friend to serve your legal problem. From its establishment, we have set a serious  commitment and dedication to provide quality legal service to any clients, for any legal matters. We have extensive experience in the unique character of Indonesian business as well as a deep understanding of Indonesia legal culture. We as your friends, will maintain the commitment and quality of legal service.

Our main focus is to provide quality legal services for individuals and companies, especially those related to legal services litigation, dispute settlement, employment, industrial relationship, general corporate, investment, banking,financial service, insurance, restructure, financing, merger, acquisition, liquidation, bankruptcy, divorce, inheritance, land acquisition, real estate, general and special crimes.

What  We Believe

In light of today’s highly competitive business environment, a company’s success or failure can be determined by the degree of its customers’ satisfaction.  For this reason, we place great importance to deliver a quality service to our clients starting from a day one and we monitor every progress, so that we can offer a good care and create needed satisfaction for our clients.  We believe the quality stems from:
  • Technical expertise, especially in the areas we have the mastery.
  • Specialization and flexibility, it is important for our lawyers not only to specialize in a particular area(s) of law, but also to be able to incorporate their expertise with other facets of the legal discipline.
  • Concise and sound advises that displays up-to-date understanding of the business environment.
  • Efficient and effective, as we endeavour to provide an efficient service as to control any cost with a needed transparency, but effective in achieving the objective of our clients.
  • Responsiveness, as we begin at returning a simple telephone call, to a punctuality, always striving and innovativeness to meet our clients’ needs.
  • Accessible to partners, as our partners can be accessed at any time when the clients need to contact us.
  • A cohesiveness and strong team effort for a company to operate successfully, every area of its business must mould together and complement one another.



Is our Founder and Managing Partner at Fauzan Ferdiansyah & Partners. Mr. Fauzan graduated from Economic Faculty of Bina Nusantara University Jakarta, Law Faculty of University Bung Karno Jakarta and Law Faculty of Unversitas Trisakti (Magister Hukum). He speaks English and Indonesia. During his professional experiences, Mr. Fauzan has handled and respresented many clients in various legal dispute settlements in Indonesia judicial courts and especially for general and special crimes, among others : divorce and inheritancesttlement. He is also very familiar in dealing with corporate legal matters and invesment in Indonesia such as mergers and acquisition, land acquisition, liquidation, and bankruptcy, restructuring and financing, intellectual propy rights, settlement of industrial relations disputes, labor and employment, and banking, insurance and financial service company in Indonesia, general and special crimes. Mr. Fauzan holds a number of Procurement Lawyer, Certified Procurement Contract Legal Expert, Certified Contract DrafterHe is a member of Indonesian Advocates Association (PERADI).

In free time, he enjoys reading books and writing about law. The writing is on his personal website . He likes automotive.

You may contact him at his email at



Is Staff at Fauzan Ferdiansyah & Partners. Putri is graduated from computer Faculty of Yayasan Administrasi Indonesia (YAI) University, Jakarta and Law Faculty of University Bung Karno Jakarta. High implementation in maintaining Fauzan Ferdiansyah & Partners, becomes a task main. Document filing, assets and operations office, gave a lot important role in the settlement the work of colleagues in this law office.

In free time, she enjoys reading books and listen to music.

You may contact her at this email at



Is Counsel at Fauzan Ferdiansyah & Partners. He is graduated from  (i) Economic Faculty of Universitas Indonesia (Sarjana Ekonomi); (ii) MBA Program of IEU (an affiliation of European University, Belgium, and currently known as Universitas Esa Unggul); (iii) Law Faculty of Unversitas Trisakti (Magister Hukum); (iv) Islamic Economic and Finance (IEF), Universitas Trisakti (Doctoral Degree); (v) Law Faculty, Universitas Padjadjaran (Doctoral Degree); and (vi) Law Faculty, Universitas Bung Karno (Sarjana Hukum).

Mr. Hendy held cum laude predicates in both Doctoral degrees in Islamic economics and finance as well as in law. Since 1983, Mr. Hendy held several notable positions in banking and financial sector; a majority of his time in that sector has been spent in handling and dealing with Non Performing Loans or NPL. That long tenure has given him a commendable understanding and skills to solve any problems related to NPL, either through inside or outside court settlement. In his experience, Mr. Hendy solved the banking problems by himself individually or by cooperating with a prominent law firm in Jakarta, at that time. Mr. Hendy speaks English and Indonesia. Mr. Hendy holds a number of certification to include as a Mediator issued by Indonesian Mediation Body (BAMI) under the Indonesian Supreme Court (Mahkamah Agung), Legal Auditor Certificate issued by Indonesian Professional Certification Authority, Procurement Lawyer, Certified Procurement Contract Legal Expert, Certified Liquidator of Indonesia, and   Tax Lawyer. The last four certifications were issued by the related professional associations. In addition, Mr . Hendy has passed the competence examination as an arbitrator in the Institut Arbiter Indonesia (IarbI). He is a member of Indonesian BAR association, and serving as the Secretary II of the Experts Board, The Indonesian Advocates Association (PERADI), The Indonesian Sharia Advocates Association (Asosiasi Pengacara Syari’ah Indonesia/ APSI), and The Indonesian Tax Consultants and Advocates Association (Ikatan Kuasa Hukum dan Advokat Pajak Indonesia/IKHAPI).

Contact Us
Thank you for considering our Law Firm. If you need further information and/or requesting us for any legal assistance, kindly contact us at :

With our office’s Address :

Kebayoran Central Complex, Kebayoran Baru / Velbak Street, block A.1, South Jakarta.

Phone Number : (+62-21) 7230334 / +6281910007961

Email             :

Instagram    : fauzanferdiansyahlawfirm

Facebook     : Kantor hukum Fauzan Ferdiansyah

Curhatan Kesengajaan Dalam Kitab Undang - undang Hukum Pidana...

Beberapa hari ini media massa,media elektronik,jagad media sosial sedang ramai memberitakan tentang perkara penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.dimana perkara tersebut sudah memasuki tahap tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum. Dimana dalam perkara penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan tersebut jaksa penuntut umum mununtut terdakwa 1 tahun penjara,bahwa dalam fakta persidangan,jaksa mengatakan:terdakwa tidak pernah mengiginkan melakukan penganiayaan berat. Terdakwa hanya memberikan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman cairan air keras ke Novel Baswedan ke badan,namun mengenai kepala korban. Sehingga tuntutan tersebut banyak menimbulkan pertanyaan publik; mengapa pelaku hanya dituntut 1 tahun penjara? Sedangkan pada kasus serupa bisa mencapai 8 tahun bahkan sampai 20 tahun.

Pada kesempatan ini penulis tidak akan membahas atau mengomentari tentang tuntutan Jaksa Penuntut Umum terhadap pelaku dalam perkara penyiraman air keras terhadap Novel baswedan, tetapi pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang ; Apakah yang dimaksud Kesengajaan dalam tindak pidana berdasarkan KUHP di Indonesia?

Tentang definisi kesengajaan terdapat beberapa pendapat dari para ahli pidana,disini penulis mengutip dari pendapat beberapa ahli pidana yang terdapat dalam Buku Prinsip-Prinsip Hukum Pidana penulis Prof.Dr.Edward Omar Sharif Hiariej, S.H.,M.Hum.

Menurut Vos menyatakan yang pada intinya bahwa dalam undang-undang(KUHP) kita,kesengajaan tidak didefinisikan secara umum, ajaran kesengajaan tidak ada dalam kitab undang-undang. Definisi kesengajaan terdapat dalam dua teori, yaitu teori kehendak dan teori pengetahuan.

Menurut sejarahnya teori kehendak atau wilstheorie adalah teori tertua yang dianut oleh von hippel dari gottingen jerman dan simon dari utrecht, belanda. Sedangkan teori pengetahuan atau voorstellingstheorie diajarkan oleh frank, guru besar tubingen, jerman sekitar tahun 1910. Penganut teori pengetahuan ini antara lain von listz dan van hamel di belanda. Mengenai apa yang dimaksud dengan teori kehendak von hippel dan teori pengetahuan dari frank, dalam bukunya hazewinkel suringa mengatakan, “menurut von hippel sengaja adalah yang telah dikehendaki sebagaimana dibayangkan sebagai tujuan. Sedangkan frank sebaliknya, sengaja dilihat dari akibat yang telah diketahui dan kelakuan mengikuti pengetahuan tersebut”.

Demikian pula pompe yang menyatakan bahwa “teori pengetahuan,kesengajaan berarti kehendak untuk berbuat dengan mengetahui unsur-unsur yang diperlukan menurut rumusan undang-undang,sedangkan yang lain adalah teori kehendak, kesengajaan adalah kehendak yang diarahkan pada terwujudnya perbuatan seperti dirumuskan dalam undang-undang. Kemudian terkait teori kehendak, suringa menambahkan bahwa teori kehendak adalah suatu kelakuan yang menimbulkan akibat-akibat merupakan suatu keharusan tanggung jawabnya,baik akibat yang dikehendaki maupun akibat yang tidak dikehendaki.

Menurut Moeljatno tidak ada perbedaan prinsip antara kedua teori tersebut terkait kesengajaan terhadap unsur-unsur delik. Teori pengetahuan mempunyai gambaran dari apa yang ada dalam kenyataan,sedangkan teori kehendak menyatakan kehendak untuk mewujudkan unsur-unsur delik. Kendatipun demikian , moeljatno sendiri lebih dapat menerima teori pengetahuan daripada teori kehendak dengan alasan bahwa di dalam kehendak untuk melakukan sesuatu sudah ada pengetahuan tentang hal itu, namun tidak sebaliknya seseorang yang mengetahui belum tentu menghendaki suatu perbuatan.      

Curhatan Pemutusan Hubungan Kerja Oleh Pengusaha/Majikan...

Berkenaan dengan pemutusan hubungan kerja dapat dilihat dalam ketentuan pasal 150 UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menetapkan bahwa ketentuan mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam undang-undang ini meliputi pemutusan hubungan kerja yang terjadi di badan usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan atau milik badan hukum, baik swasta maupun milik negara, maupun usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Di samping itu, KUHPerdata juga memberikan sejumlah ketentuan tambahan berkaitan dengan pemutusan hubungan kerja. Menurut ketentuan Pasal 1603g KUHPerdata, jika hubungan kerja diadakan untuk waktu yang tidak tentu atau sampai dinyatakan putus, tiap pihak berhak memutuskannya dengan pemberitahuan pemutusan hubungan kerja. Hal serupa berlaku dalam hal perjanjian untuk waktu tertentu, dalam hal pemberitahuan dipersyaratkan. Kendati begitu, baik KUHPerdata maupun UU Ketenagakerjaan menambahkan sejumlah syarat tertentu sebelum pemberitahuan demikian dapat diberikan.

Apabila pemutusan hubungan kerja tidak bisa dihindarkan, ketentuan pasal 151 UU No.13 Tentang Ketenagakerjaan menetapkan tiga tahapan yang harus ditempuh dalam hal pengusaha berkehendak untuk memutuskan hubungan kerja dengan buruh/pekerja.

Pertama, pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/buruh, dan pemerintah, dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja. Berdasarkan penjelasan ketentuan ini, frasa “dengan segala upaya” merrujuk pada aktivitas atau kegiatan positif yang pada akhirnya dapat mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja, termasuk antara lain, pengaturan ulang jam kerja, tindakan penghematan, restrukturisasi atau reorganisasi metode kerja, dan upaya untuk mengembangkan pekerja/buruh.

Kedua, bilamana dengan segala upaya yang dilakukan, tidak dapat dihindari pemutusan hubungan kerja, maka maksud untuk memutuskan hubungan kerja wajib dirundingkanoleh pengusaha dan serikat pekerja/buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/buruh.
Ketiga, jika perundingan tersebut benar-benar tidak menghasilkan persetujuan, pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. 

Semoga Bermanfaat...

Penulis : Agus Haryanto, S.H.

Curhat tentang Perusahaan Melakukan Pemotongan Upah Saat Pandemi COVID 19..

Pandemi Covid 19 saat ini sangat berdampak pada kondisi ekonomi di negara kita, laju pertumbuhan ekonomi turun drastis akibatnya daya beli masyarakat juga ikut turun. Kondisi ini sangat dirasakan tidak hanya pada masyarakat ekonomi menengah ke bawah tetapi juga menyasar kepada dunia usaha,terutama usaha UMKM. Sehingga para pengusaha melakukan banyak cara agar usahanya tetap bertahan diantara:memotong jumlah produksi,mengurangi jam kerja,meliburkan pekerja sampai dengan melakukan pemotongan upah pekerja.Dan yang akan kami bahas pada kesempatan ini adalah tentang persoalan pemotongan upah pekerja saat pandemi covid 19 saat ini.

Pemotongan Upah yang Sah
Yang pertama-tama kita pahami terlebih dahulu adalah definisi upah menurut Pasal 1 ayat 30 UU No.13 Tahun 2003 adalah:

Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Kemudian, komponen upah menurut Pasal 5 ayat (1) PP 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan terdiri atas:
Upah tanpa tunjangan;
a.Upah pokok dan tunjangan tetap; atau
b.Upah pokok, tunjangan tetap, dan tunjangan tidak tetap.

Adapun pemotongan upah oleh pengusaha dilakukan sesuai dengan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau peraturan kerja bersama untuk:
b.ganti rugi; dan/atau
c.uang muka upah

Selain itu, terdapat pemotongan upah oleh pengusaha untuk pihak ketiga yang hanya dapat dilakukan apabila ada surat kuasa dari pekerja/buruh yang setiap saat dapat ditarik kembali

Surat kuasa tersebut dikecualikan untuk semua kewajiban pembayaran pekerja/buruh terhadap negara atau iuran sebagai peserta pada suatu dana yang menyelenggarakan jaminan sosial yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Di sisi lain, terdapat pemotongan upah oleh pengusaha yang harus dilakukan berdasarkan kesepakatan tertulis atau perjanjian tertulis, yaitu untuk:
  • Pembayaran hutang atau cicilan hutang pekerja/ buruh; dan/ atau
  • Sewa rumah dan/atau sewa barang-barang milik perusahaan yang disewakan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh
  • Pemotongan upah oleh pengusaha juga dapat dilakukan tanpa persetujuan pekerja/buruh dalam hal terjadi kelebihan pembayaran upah kepada pekerja/buruh.
  • Patut digarisbawahi, jumlah keseluruhan pemotongan upah paling banyak 50% dari setiap pembayaran upah yang diterima pekerja/buruh.

Sehingga dari penjelasan di atas, kami berpendapat bahwa alasan pemotongan upah karyawan akibat perusahaan merugi sebagai dampak wabah virus corona adalah tidak berdasarkan hukum dan dapat menimbulkan perselisihan hubungan industrial, yaitu perselisihan hak.

“Apakah Yang dimaksud dengan perselisihan hak dan Bagaimana Cara Penyelesaian Perselisihan Hak?”
Perselisihan hak berdasarkan Pasal 1 angka 2  UU No. 2 Tahun 2004 Tentang PPHI memiliki arti:
Perselisihan hak adalah perselisihan yang timbul karena tidak dipenuhinya hak, akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Setiap perselisihan hubungan industrial wajib diupayakan penyelesaiannya terlebih dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat yang harus diselesaikan paling lama 30 hari kerja sejak tanggal dimulai perundingan.

Apabila dalam jangka waktu 30 hari, salah satu pihak menolak untuk berunding atau telah dilakukan perundingan tetapi tidak mencapai kesepakatan, maka perundingan bipartit dianggap gagal.

Dalam hal perundingan bipartit gagal, maka salah satu atau kedua belah pihak mencatatkan perselisihan ke instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat dengan melampirkan bukti bahwa perundingan bipartit telah dilakukan. Perselisihan hak yang telah dicatat itu selanjutnya harus diselesaikan melalui mediasi terlebih dahulu sebelum diajukan ke pengadilan hubungan industrial. Bila mediasi tidak mencapai kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian bersama, maka salah satu pihak dalam hal ini pekerja dapat mengajukan gugatan ke pengadilan hubungan industrial.

Demikian penjelasan kami terkait pemotongan upah pekerja pada saat pandemi corona saat ini.Semoga bermanfaat.

Penulis : Agus Haryanto, S.H.


1. Bagaimana gambaran umum tentang pailit suatu perusahaan ?

Secara umum pailit merupakan kondisi dimana sudah tidak mampu lagi melunasi hutang - hutangnya kepada kreditor. Sehingga berlakulah sita umum. Selanjutnya, dalam proses pailit harta perusahaan dilakukan pemberesan oleh seorang kurator untuk menyelesaikan seluruh hutangnya kepada kreditor.

2. Apa peran dan tujuan direksi dalam menjalankan perusahaan?

Direksi memiliki peran yang sentral dalam menjalankan perusahn sesuai dengan maksud dan tujuan perusahaan didirikan. Kewenangan lain yang diberikan, secara hukum antara lain direksi diberi kewenangan untuk mewakili perusahaan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Oleh karena kewenangan yang diberikan direksi sangat besar maka ketika terjadi pailit terhadap perusahaan maka dilihat sejauh mana peran direksi, apakah telah melaksanakan kebijakan yang sudah tepat atau tidak.

3.  Apa dasar Hukum wewenang direksi ?

Wewenang direksi terdapat di Undang - undang No.40 Tahun 207 Tentang Perseroan Terbatas Pasal 92 ayat (1) dan (2) yang berbunyi,
- Ayat (1), 
"Direksi menjalankan pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan."
- Ayat (2),
"Direksi berwenang menjalankan pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kebijakan yang dipandang tepat, dalam batas yang ditentukan dalam Undang - undang ini dan/atau anggaran dasar."

4. Syarat apa saja dapat diangkat menjadi anggota Direksi ? apa dasar Hukumnya ?

yang dapat diangkat menjadi anggota direksi adalah orang perseorangan yang cakap melakukan perbuatan  hukum, kecuali dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum pengangkatannya pernah (UU No. 40/2007,Pasal 93 ayat (1)) :
a.  Dinyatakan Pailit
b. Menjadi anggota Direksi atau anggota Dewan Komisarisyang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu Perseroan dinyatakan pailit
c. Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan.

5. Apakah Direksi bertanggung jawab atas perusahaan dipailitkan ?

Setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban perseroan, jika kepailitan tersebut terjadi akibat kesalahan atau kelalaian direksi dalam menjalankan tugasnya. Tanggung jawab atas tindakan direksi tersebut harus dinyatakan dalam sebuah putusan yang menyatakan pailit perusahaan diakibatkan oleh tindakan direksi. hal tersebut diatur dalam Undang - undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 104 ayat (2), yang berbunyi
"Dalam hal kepailitan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terjadi karena kesalahan atau kelalaian Direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban Perseroan dalam kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertangung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut."

 6. Apakah Mantan Direksi bertangung jawab kepada perusahaan yang  dipailitkan ?

Pertangung jawaban Direksi dalam Pailit juga dikenakan kepada mantan anggota direksi terhitung dalam jangka waktu masa jabatan 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit terhadap perusahaan yang dinyatakan bersalah atau lalai.

7. Apakah bisa Direksi tidak pertanggung jawab atas kepailitan ?
Bisa, sepanjang direksi dapat membuktikan telah melakukan pengurusan perusahaan dengan tepat, penuh tanggung jawab dan beritikad baik sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar perusahaan. Hal ini diatur dalam Undang - undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 104 ayat (4), Yang berbunyi
"Anggota Direksi tidak bertangung jawab atas kepailitan Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila dapat membuktikan :
a. Kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati - hatian, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
c. Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan
d. telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan."

Semoga Bermanfaat..